Minggu, 03 Januari 2016

PENGAWETAN KERING, BIORESIN DAN PENGAWETAN HEWAN ( TAKSIDERMI )



Praktikum Bioresin pada Kepiting

1.    Fokus Pertanyaan
Apa pengaruh sinar matahari pada proses pengeringan resin?

2.    Dasar Nilai
Sinar matahari berperan dalam proses pengeringan resin agar resin kering dengan sempurna.

3.    Dasar Teori
Resin berfungsi merekatkan komponen-komponen yang ada dan melekatkan keseluruhan bahan pada permukaan suatu bahan (membentuk film). Resin pada dasarnya adalah polymer dimana pada temperatur ruang (atau temperature aplikasi) bentuknya cair, bersifat lengket dan kental dan pengerasan akan terjadi setelah campuran resin dan katalis dikenai sinar UV.

4.    Konsep Dasar
Resin dengan takaran 100 cc dan diberi 8-10 tetes katalis akan cepat mengering oleh sinar matahari setelah sebelumnya dipanaskan dalam incubator dengan suhu 40°C selama 10 menit.

5.    Metode
Hipotesis:Sinar matahari dalam proses pengeringan resin ini sangat berpengaruh. Resin yang dikeringkan dengan cara langsung terkena sinar matahari hasilnya pada lapisan dalam resin akan pecah/retak karena resin terlalu kering, berbeda dengan resin yang dikeringkan tanpa terkena langsung oleh sinar matahari yang kering secara merata dan sempurna sehingga tidak ada retakan dilapisan dalam resin.

6.    Pelaksanaan
a.    Resin yang dikeringkan dengan cara langsung terkena sinar matahari hasilnya pada lapisan dalam resin pecah/retak.
b.    Resin yang dikeringkan tanpa terkena langsung oleh sinar matahari yang kering secara merata dan sempurna.
Variabel terikat       : Resin, Sinar matahari 
Variable bebas        : Kepiting






7.    Hasil Pengamatan
Percobaan
Hasil
Presentase Akhir
Pengeringan resin yang langsung terkena sinar matahari
Lapisan dalam resin retak/pecah
85% resin kering sempurna dan 15% bagian resin retak/pecah
Pengeringan resin tanpa terkena langsung sinar matahari
Resin kering secara sempurna
100% kering tanpa retak

8.    Transpormasi Data
Grafik hasil pengamatan



9.    Kesimpulan
Resin yang dikeringkan dengan terkena langsung sinar matahari hasilnya pada lapisan dalam resin retak/pecah, sedangkan resin yang dikeringkan dengan tidak langsung terkena sinar matahari lebih bagus karena kering merata dan sempurna.

10.    Evaluasi
Dalam praktek ini bahwa hipotesis dan kesimpulan akhirnya sama. Dimana pengeringan resin yang bagus adalah dengan mengeringkannya tanpa langsung terkena sinar matahari.




Praktikum Pengawetan Kering (Insektarium) Menggunakan Hewan Kupu-Kupu

1.    Fokus Pertanyaan
Bagaimana pengaruh suntikan cairan formalin terhadap proses pengawetan kering pada kupu-kupu dan bagaimana media penyimpanan yang tepat untuk kupu-kupu yang telah diawetkan?

2.    Dasar Nilai
Pada pengawetan serangga yang memiliki abdomen besar seperti kupu-kupu, proses pengawetannya dapat dilakukan dengan cara menyuntikan formalin yang berperan membunuh bakteri dengan membuat jaringan dalam bakteri dehidrasi sehingga sel bakteri mengering dan membentuk lapisan baru di permukaan bawahnya agar tahan terhadap serangan bakteri yang lain dan agar kadar air pada abdomen menjadi sangat rendah.

3.    Dasar Teori
Formalin adalah larutan bening berbau menyengat, mengandung sedikit metanol untuk bahan pengawet dan pembunuh kuman.
Pengawetan kering pada kupu-kupu menggunakan formalin .

4.    Konsep Dasar
Kupu-kupu yang telah mati disuntik formalin 5% dengan takaran 0,2 ml untuk kupu-kupu ukuran kecil dan 0,5 ml untuk kupu-kupu ukuran besar sampai kupu-kupu tersebut kaku karena formalin menyebar pada tiap bagian tubuhnya termasuk ke otak.

5.    Metode
Hipotesis: Kupu-kupu yang telah disuntik formalin 5% pada bagian abdomennya akan menjadi kaku hingga menjadikannya awet dan tidak mudah rusak. Pada proses ini, ukuran kupu-kupu dapat mempengaruhi takaran formalin yang akan disuntikan. Penyimpanan yang baik untuk hasil pengawetan adalah pada media papan pigura yang ditutup rapat oleh kaca.

6.    Pelaksanaan
a.    Ukuran kupu-kupu mempengaruhi cepat lambatnya proses pengkakuan.
b.    Semakin besar ukuran kupu-kupu, maka proses pengkakuannya pun lebih lama.
Variable bebas        : Formalin
Variable terikat       : Kupu-kupu
Variabel kontrol     : Ukuran kupu-kupu,spet,kerikil
7.    Hasil Pengamatan

Percobaan
Media penyimpanan
Hasil
Percobaan 1
Pigura yang ditutupi rapat oleh kaca
Hewan kecil akan sulit masuk dan kupu-kupu pun akan terjaga dan tetap utuh.
Percobaan 2
Pigura yang ditutupi oleh plastic
Hewan kecil akan mudah masuk kedalam pigura dan merusak kupu-kupu yang telah diawetkan.

8.    Transformasi data
Digunakan pigura dengan tutup kaca agar kupu-kupu yang telah diawetkan terhindar dari hewan atau serangga perusak. Berikut presentasi antara pigura yang ditutup dengan kaca dan ditutup dengan plastik.


9.    Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa kupu-kupu yang telah disuntik formalin 5% pada bagian abdomennya akan menjadi kaku hingga menjadikannya awet dan tidak mudah rusak. Pada proses ini, ukuran kupu-kupu dapat mempengaruhi takaran formalin yang akan disuntikan. Penyimpanan yang baik untuk hasil pengawetan adalah pada media papan pigura yang ditutup rapat oleh kaca agar kedap udara dan dapat mencegah serangga atau hewan perusak seperti semut.


10.    Evaluasi
Dalam praktek ini bahwa hipotesis dan kesimpulan akhirnya sama. Formalin yang disuntikan pada abdomen kupu-kupu akan mengakibatkan tubuh kupu-kupu itu kaku dan penggunaan media yang tepat seperti pigura dengan tutup kaca sangat mempengaruhi hasil pengawetan agar terhindar dari serangga perusak.





Praktikum Taksidermi Pada Biawak

1.    Fokus Pertanyaan
Bagaimana pengaruh formalin dan boraks pada proses pengawetan biawak dan seberapa lama proses penyinaran sinar uv pada biawak yang telah dikuliti?

2.    Dasar Teori
Formalin dan boraks berperan penting pada proses pengawetan biawak agar tidak terjadi pembusukan pada biawak yang diawetkan dan cahaya matahari juga berperan agar kandungan air pada biawak rendah.

3.    Dasar Teori
Formalin adalah bahan kimia yang berupa cairan dalam suhu ruang, tidak berwarna,bau sangat menyengat, mudah larut dalam air dan alkohol. Formalin digunakan sebagai desinfektan, cairan pembalsem, pengawet jaringan, dan digunakan di industri tekstil dan kayu lapis. 
Boraks merupakan srebuk kristal lunak yang mengandung unsur boron, berwarna  putih, tidak berbau, mudah larut dalam air, tidak larut dalam alkohol, PH: 9, 5.

4.    Konsep Dasar
Biawak yang masih hidup disentikan cairan formalin pada begian otaknya sampai biawak mati lalu dikuliti dan ditaburi boraks agar kulitnya awet lalu dikeringkan dengan bantuan sinar uv.

5.    Metode
Hipotesis : Formalin dan boraks akan mencegah terjadinya pembusukan pada biawak awetan. Pengeringan dengan sinar matahari yang terlalu lama akan mengakibatkan kulit biawak kering total dan sukar untuk dibentuk utuh kembali.

6.    Pelaksanaan
a.    Biawak yang telah disuntik formalin pada bagian otaknya akan segera mati
b.    Proses mengkuliti biawak dilakukan dengan baik agar tidak ada daging yang tersisa
c.    Proses pengeringan biawak dilakukan sampai biawak kering 80-90%.
Variable terikat       : biawak
Variable bebas        : Formalin, boraks dan sinar uv




7.    Hasil Pengamatan
Pengamatan dilakukan pada proses pengeringan dengan sinar uv
Waktu (menit)
Tingkat Kekeringan
1-5 menit
Kering 20%
6-10 menit
Kering 40%
11-15 menit
Kering 60%
16-20 menit
Kering 80%

8.    Transpormasi Data


9.    Kesimpulan
Dengan formalin dan boraks awetan biawak ini tidak busuk dan dengan proses pengeringan dengan sinar matahari yang mencapai tingkat kekeringan 80% biawak akan mudah dibentuk kembali.

10.    Evaluasi
Dalam praktikum ini bahwa hipotesis dan kesimpulan akhirnya sama. Dimana dengan menggunakan formalin dan boraks biawak yang diawetkan dapat terhindar dari proses pembusukan dan tingkat pengeringan yang mencapai 80% oleh sinar matahari membuat biawak mudah dibentuk kembali.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar